V&A East: Pembukaan yang Dihidangkan dengan Isu Gaji
Pembukaan V&A East di Stratford, London, menjadi salah satu momen paling dinantikan di dunia entertainment dan budaya. Namun, di balik kemeriahan pembukaan ini, tersimpan isu penting terkait gaji para pekerjanya. Ribuan orang menyerukan agar V&A menjadi employer yang memberikan upah layak, yang dikenal dengan istilah living wage. Isu gaji ini membuat banyak orang penasaran dan tak sabar menunggu dampaknya di dunia museum dan seni di Inggris.
V&A East, yang dibuka pada hari Sabtu kemarin, siap mempersembahkan koleksi menakjubkan mulai dari kain, foto, hingga musik dari komunitas black British. Ini merupakan langkah signifikan dalam sejarah museum di UK, menambah deretan lokasi V&A seperti V&A di South Kensington, Young V&A di Bethnal Green, dan V&A Dundee.
Sejarah dan Misi V&A
V&A museum yang pertama kali dibuka pada tahun 1852, memiliki misi untuk “memperkenalkan seni dan desain untuk semuanya” dan menjadi champion bagi desain serta kreativitas dalam segala bentuk. Dengan koleksi jutaan objek dan pameran yang menghadirkan nama-nama terkenal seperti Taylor Swift dan Naomi Campbell, V&A menjadi salah satu tujuan wisata budaya yang tidak boleh dilewatkan.
Namun, meski V&A memenuhi semua persyaratan gaji minimum yang ditetapkan secara hukum, banyak pekerja dan kontraktor dengan gaji terendah di London yang belum mendapatkan living wage. Dalam hal ini, gaji minimum di Inggris adalah £12.71 per jam, sementara living wage di London mencapai £14.80 per jam.
Panggilan untuk Keadilan di Tempat Kerja
Data dari Living Wage Foundation menunjukkan bahwa living wage merupakan satu-satunya tarif gaji yang sesuai dengan biaya hidup nyata di Inggris. Di tengah perayaan pembukaan museum yang baru ini, fokus masyarakat tertuju pada platform yang didorong para pekerja, Organise, dan Citizens UK yang menggalang petisi kepada Direktur V&A, Sir Tristram Hunt, serta pejabat senior lainnya.
Petisi ini sudah ditandatangani lebih dari 21,000 orang dan menuntut “upah layak untuk kerja yang layak”. Mereka berargumen bahwa lembaga publik seperti V&A harus membayar semua pekerjanya sesuai dengan living wage. Sementara itu, sejumlah museum dan atraksi budaya lainnya seperti National Gallery, National Theatre, dan Tate sudah berstatus sebagai employer living wage.
Dampak Sosial dan Harapan Masa Depan
Dengan semua perhatian terkonsentrasi di V&A sebagai museum publik, Roxy Khan-Williams, kepala kampanye di Organise, menyatakan bahwa masyarakat mengharapkan institusi yang dibiayai oleh pajak untuk memberikan perlakuan yang adil kepada semua pekerja. “Membayar living wage bukan hanya masalah moral, tetapi juga berdampak langsung pada bagaimana orang terlibat dengan institusi ini,” ujarnya.
Frankie Webster, seorang pengorganisir komunitas di Citizens UK, menambahkan bahwa living wage harus dipahami sebagai hak untuk hidup dengan bermartabat. “Setiap orang berhak mendapatkan cukup uang untuk hidup,” katanya. Pendekatan ini menggugah untuk lebih memperhatikan hak pekerja, terutama dalam industri yang berpengaruh besar dalam dunia seni dan budaya.
Langkah Selanjutnya untuk V&A
V&A masih belum memberikan komentar resmi mengenai isu ini, namun jelas bahwa permintaan untuk mengadopsi living wage adalah sebuah isu yang tidak bisa diabaikan. Masyarakat luas menunggu respon dari V&A dan dampaknya terhadap pekerja serta pengunjung yang menikmati pameran seni yang ada.
Isu di V&A East merupakan pengingat pentingnya memperhatikan kesejahteraan pekerja di sektor entertainment. Penegakan living wage sangat berdampak pada cara orang berinteraksi dengan seni dan budaya, serta bagaimana institusi ini berperan dalam masyarakat. Kita berharap agar pembukaan V&A East tidak hanya memberikan pengalaman mengesankan bagi pengunjungnya, tetapi juga menjamin kondisi kerja yang layak bagi semua orang yang terlibat di dalamnya.
Dengan semua perkembangan ini, satu hal pasti—isu ini akan terus menjadi sorotan. Masyarakat menunggu V&A untuk mengambil langkah nyata demi perubahan yang lebih baik dalam memperlakukan pekerjanya.


