ISGL: Landasan Baru Ambisi E-Sport India
Ambisi e-sport India kini semakin terstruktur dengan diluncurkannya Indian Super Gaming League (ISGL), kompetisi e-sport nasional berbasis franchise yang pertama di negara tersebut. Inisiatif ini diprakarsai oleh Gautam Badalia, mantan CEO Route Mobile, dan Santanu Basu, seorang gamer profesional yang sudah mewakili India di berbagai turnamen internasional.
Dari peluncuran ISGL, Badalia dan Basu berusaha menciptakan momen “IPL” untuk e-sport, di mana mereka membangun model liga yang dapat berkembang dan memiliki kredibilitas. Liga ini akan mempertemukan delapan franchise yang bersaing di lima judul permainan. Dengan semangat seperti IPL, mereka berharap e-sport di India mendapatkan struktur, visibilitas, dan skala komersial yang lebih baik.
Musim perdana ISGL akan dimulai dengan kualifikasi berbasis kota yang akan berlanjut menuju grand final yang dijadwalkan berlangsung di Vizag atau Mumbai pada bulan Juni mendatang. Kualifikasi regional sudah dimulai, dimulai dari Mumbai di NESCO dan akan menyebar ke beberapa kota, termasuk Dimapur.
Model Franchise dan Struktur Kompetisi
ISGL mengadopsi model franchise yang diambil dari ekosistem olahraga yang sudah mapan. Sebanyak lima klub Indian Super League sen, yaitu Mumbai City FC, FC Goa, Chennaiyin FC, Kerala Blasters FC, dan Inter Kashi, telah menggandeng liga ini. Tidak ketinggalan, klub dari Pro Kabaddi League, Puneri Paltan, serta Bangalore Bhargavas dan Andhra Agneyas juga turut berpartisipasi.
Pemain akan berkompetisi di lima judul permainan: Chess, EA Sports FC 26, Call of Duty: Mobile, FAU-G, dan Cricket 26. Struktur kompetisi mengikuti format liga franchise tradisional, dimulai dengan kualifikasi regional yang akan mengarah ke grand final nasional.
Kedua pendiri memiliki latar belakang yang berbeda namun saling melengkapi. Badalia memiliki lebih dari dua dekade pengalaman di dunia perbankan investasi dan pasar modal. Sementara itu, Basu mewakili perspektif pemain, yang telah seimbang antara gaming kompetitif dan akademis, berhasil meraih peringkat JEE 9182 sebelum menyelesaikan gelar S1 di bidang Teknologi Informasi.
Meski minat olahraga mereka berbeda, Badalia lebih menyukai catur, sedangkan Basu penggemar sepak bola, mereka sepakat untuk memajukan posisi India dalam ekosistem e-sport global.
Mengatasi Kekurangan Struktural
ISGL hadir untuk mengatasi tiga kekurangan utama yang diyakini pendiri telah menghambat perkembangan e-sport di India:
- Kurangnya struktur profesional: Meskipun ada lebih dari 500 juta gamer, India belum memiliki liga berbasis franchise yang dapat mengubah basis ini menjadi karier profesional yang layak.
- Aksesibilitas berbasis mobile: Menyadari kenyataan gaming di India, judul-judul liga dan infrastrukturnya dibangun untuk platform yang dapat diakses dan berbiaya rendah, bukan untuk setup yang mahal.
- Legitimasi budaya: Dengan e-sport sekarang menjadi bagian dari Asian Games, liga ini bertujuan melawan skeptisisme orang tua dengan memposisikan gaming sebagai disiplin berbasis keterampilan yang membutuhkan strategi, refleks, dan pengambilan keputusan.
Gautam Badalia mengungkapkan, “Kami ingin menciptakan sesuatu yang mirip dengan yang dilakukan Indian Premier League untuk kriket. Sebelum IPL, sudah banyak turnamen kriket di India, namun IPL merevolusi olahraga ini dengan menghadirkan struktur, skala, dan kredibilitas. Itu yang kami coba bangun untuk e-sport. Jika liga ini membantu menghasilkan bahkan satu pemenang medali di Asian Games, itu akan menjadi kesuksesan besar.”
Santanu Basu menambahkan, “Tantangan terbesar bagi gamer India adalah ketidakhadiran liga yang terstruktur. Karena itu, e-sport seringkali dianggap gaming kasual, bukan karier profesional. Gamer profesional tidak main tanpa tujuan; sesi latihan harus terstruktur dan berkualitas. Tujuan kami adalah menciptakan ekosistem yang tepat agar gamer India dapat bersaing dengan yang terbaik di dunia.”
Relevansi untuk Gamer Indonesia
Keberadaan ISGL merupakan kabar baik tidak hanya untuk India, tapi juga untuk perkembangan e-sport di Asia, termasuk Indonesia. Dengan semakin berkembangnya minat terhadap e-sport, model liga berbasis franchise serupa bisa menjadi contoh nyata bagi penyelenggara kompetisi di tanah air. Memungkinkan lebih banyak gamer untuk meniti karir profesional dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat.
Melirik bagaimana ISGL mengembangkan ekosistem e-sport, Indonesia juga perlu menciptakan struktur serupa, yang memungkinkan pemain mendapatkan peluang yang lebih baik. Di tengah perkembangan pesat olahraga digital, inisiatif seperti ISGL sangat penting untuk memberikan legitimasi dan mendorong pertumbuhan sektor ini lebih jauh.
Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang tren terbaru di dunia e-sport, kunjungi berita terbaru kami yang selalu up-to-date mengenai perkembangan penting dalam industri ini.
Kesimpulan
ISGL adalah langkah besar untuk perlombaan e-sport di India ke arah yang lebih profesional dan berstruktur. Ini membawa harapan baru bagi gamer di India dan mungkin bisa menjadi inspirasi bagi ekosistem e-sport di negara lain, termasuk Indonesia. Dengan dukungan yang tepat, langkah ini bisa menjadi model teladan untuk memajukan industri gaming di Asia.


