Masalah Aksesibilitas di Subway Glasgow
Glasgow memiliki jaringan subway yang menarik dengan 15 stasiun, namun hanya dua di antaranya yang dilengkapi dengan lift untuk akses ke platform. Hal ini menjadi masalah serius bagi pengguna kursi roda penuh waktu, seperti Rae, yang terpaksa mencari cara lain untuk menggunakan transportasi publik ini. Masalah aksesibilitas di subway tidak hanya sekadar isu teknis, tetapi juga menyentuh tanggung jawab sosial untuk memastikan bahwa semua orang, tanpa terkecuali, dapat menikmati fasilitas transportasi umum.
Rae menceritakan pengalaman mereka, “Untuk menggunakan subway secara mandiri, saya harus merangkak turun tangga dengan kursi roda di depan.” Ini adalah cara yang melelahkan dan tidak bermartabat, tetapi pilihan yang ada sangat terbatas. Rae menambahkan bahwa tingkah laku masyarakat sekitar membuat situasi menjadi lebih sulit, “Orang-orang sering mempertanyakan metode saya, terkadang merasa seolah saya seperti atraksi di kebun binatang, yang membuat saya merasa tidak nyaman.”
Perbandingan dengan Sistem di London
Pada suatu waktu, Rae melakukan perjalanan ke London dan menyadari bahwa akses ke sistem transportasi di kota tersebut jauh lebih baik. Lebih dari sepertiga dari 272 stasiun Tube London memiliki akses tanpa langkah, berkontribusi pada pengalaman yang lebih ramah bagi pengguna kursi roda. Kembali dari perjalanan itu, Rae merasa bahwa Glasgow harus mengambil langkah serupa dan meluncurkan kampanye “Access2Transport” di Instagram untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya aksesibilitas di kota mereka.
Glasgow Subway adalah sistem metro bawah tanah tertua ketiga di dunia, dengan sekitar 13 juta penumpang setiap tahun. Meskipun sudah melakukan beberapa modernisasi, seperti pengenalan armada kereta baru dengan ruang khusus untuk kursi roda, masih banyak yang harus dilakukan terkait aksesibilitas. Hanya dua stasiun, Govan dan St Enoch, yang menyediakan akses penuh untuk pengguna kursi roda.
Berdasarkan pernyataan dari seorang juru bicara SPT (Strathclyde Partnership for Transport), proses modernisasi yang sedang berlangsung harus mempertimbangkan keterbatasan ruang yang ada di dalam terowongan Victoria berusia hampir 130 tahun. Meskipun upaya untuk memasukkan akses lift di semua stasiun sudah dipertimbangkan, hasilnya menunjukkan bahwa hal tersebut hanya mungkin dilakukan di dua stasiun tersebut.
Upaya Mengatasi Keterbatasan Akses
Meskipun panduan reformasi bertujuan untuk mengatasi semua masalah ini, realitasnya menunjukkan kendala fisik yang signifikan, seperti platform “pulau” yang menghalangi penambahan lift. Di stasiun dengan platform ganda seperti Govan dan St Enoch, lift hanya bisa dibangun dari concourse ke platform, yang merupakan tantangan tersendiri.
Tidak hanya masalah akses subway yang menjadi perhatian Rae. Anak muda ini juga menyoroti tantangan dalam menggunakan bus di Glasgow, di mana mereka hanya mengambil bus bila tidak ada pilihan lain. Meskipun ada ruang yang ditujukan untuk kursi roda, seringkali ruang tersebut juga digunakan untuk kereta bayi. Ketika bus tiba, sering kali tidak ada ruang yang tersedia bila sudah ada pengguna lain.
Ketidakpastian dalam mendapatkan transportasi ini menyebabkan Rae merasa tidak bisa bergantung pada system transportasi yang ada, “Banyak bus yang hanya lewat begitu saja meskipun saya mengangkat tangan,” tambahnya. Mereka memiliki pengalaman buruk di mana bus memilih untuk berhenti jauh dari trotoar dan tidak memanfaatkan ram ketika ada penumpang kursi roda.
Pikiran Terakhir dan Harapan untuk Perubahan
Deputy Lord Provost Bailie Christy Mearns juga menyadari tantangan ini. Sebagai anggota dewan untuk SPT, Mearns mengatakan, “Transportasi publik bisa sangat sulit digunakan, terutama bagi orang-orang dengan kebutuhan khusus.” Beliau mengapresiasi upaya untuk memperbaiki akses di stasiun-stasiun subway yang ada.
Pada akhirnya, masalah aksesibilitas di transportasi publik seperti subway di Glasgow menyentuh aspek fundamental dari kehidupan sehari-hari. Pengalaman Rae menunjukkan perlunya kesadaran dan tindakan yang lebih mendalam untuk mendukung pengguna dengan kebutuhan khusus agar mereka bisa menikmati akses yang sama dengan orang lain. Dalam dunia yang semakin maju, mari kita berharap bahwa upaya ini tidak hanya menjadi janji, tetapi juga dapat diimplementasikan secara nyata.


